Marco, Putra Diah Permatasari, Pilih Pulang Kampung Rintis Karier Usai Lulus S1 dari Kampus Bergengsi AS, Berbeda dengan Sang Kakak
Marco, Putra Diah Permatasari, Pilih Pulang Kampung Rintis Karier Usai Lulus S1 dari Kampus Bergengsi AS, Berbeda dengan Sang Kakak
University of Southern California (USC) yang merupakan salah satu universitas bergengsi di dunia, menjadi saksi bisu perjalanan pendidikan Marco, putra dari aktris senior Diah Permatasari. Meski saat ini tengah menempuh studi di sana, Marco menunjukkan pilihan yang terbilang unik dan patut diacungi jempol. Berbeda dengan sang kakak, Marcello Renara Djatmiko, yang baru saja merayakan kelulusan jenjang Magister (S2) di kampus yang sama, Marco mengaku tidak ingin terburu-buru melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keputusannya untuk tidak langsung mengambil S2 dan memilih untuk pulang ke Tanah Air setelah menyelesaikan S1, merupakan sebuah langkah berani yang menunjukkan kematangan dalam merencanakan masa depan.
Pilihan ini tentu saja menarik perhatian, mengingat betapa prestisiusnya USC dan kesempatan emas yang ditawarkan untuk menempuh pendidikan lanjutan di luar negeri. Banyak mahasiswa dari berbagai penjuru dunia berjuang keras untuk bisa masuk ke universitas sekelas USC, dan lulus dari sana adalah sebuah pencapaian luar biasa. Namun, bagi Marco, gelar akademik bukanlah satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Ia memiliki pandangan yang berbeda, yaitu keinginan kuat untuk membangun karier dan memberikan kontribusi di negara asalnya, Indonesia. Keputusan ini mencerminkan nilai-nilai patriotisme dan keinginan untuk turut serta dalam pembangunan bangsa, sebuah sikap yang patut diapresiasi di kalangan generasi muda saat ini.
Saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pada Jumat (29/5/2026), Marco yang saat itu berusia 19 tahun, dengan lugas menyampaikan rencananya. "Kalau mengenai S2, jujur belum terpikirkan sih. Rencana aku setelah lulus S1 mau langsung kerja saja di sini," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi keseriusannya dalam mengambil langkah konkret untuk terjun ke dunia profesional. Ia tidak melihat gelar S2 sebagai sebuah keharusan mutlak untuk meraih kesuksesan, melainkan lebih fokus pada pengalaman praktis dan pengembangan diri melalui pekerjaan.
Keinginan Marco untuk membangun karier di Indonesia tampaknya sudah bulat dan tidak dapat digoyahkan. Ia tidak membatasi diri harus terjun ke bidang tertentu, bahkan membuka lebar segala peluang yang ada. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dan keterbukaan pikirannya. Baik itu mengikuti jejak sang mama di panggung hiburan yang penuh gemerlap, maupun menjadi pekerja profesional di sektor lain, semua peluang ia anggap sama berharganya. "Mau itu di dunia entertainment atau kantoran, tidak masalah, yang penting di Indonesia," tambahnya dengan penuh keyakinan. Sikap ini patut dicontoh, karena menunjukkan bahwa kesuksesan dapat diraih melalui berbagai jalur karier, asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan memberikan dampak positif.
Menariknya, keputusan Marco ini ternyata mendapat dukungan penuh dari sang ibu, Diah Permatasari. Sebagai seorang ibu yang telah malang melintang di dunia hiburan, Diah memahami betul dinamika karier dan pentingnya memberikan kebebasan bagi anak untuk menentukan jalan hidupnya. Ia tidak memaksakan kehendak, apalagi membayangi Marco dengan kesuksesan kakaknya. "Marco kan masih muda, 19 tahun. Perjalanan masih sangat panjang. Yang penting sekarang Marco happy, mama juga pasti happy," tutur Diah dengan hangat. Dukungan moral dari orang tua seperti ini sangat krusial bagi perkembangan mental dan emosional anak, terutama saat mereka berada di usia muda yang rentan terhadap keraguan dan tekanan.
Diah Permatasari mengungkapkan rasa syukur dan bangga yang luar biasa atas pencapaian kedua putranya. Baginya, melihat Marcel dan Marco bisa menembus universitas impian yang sama di luar negeri, yaitu USC, sudah merupakan sebuah pencapaian yang sangat melegakan hati. Kebahagiaan ini sempat ia bagikan melalui unggahan di media sosialnya, yang disambut positif oleh para pengikutnya. "Bersyukur sekali, mereka berdua diterima dan kuliah di university impian mereka yang sama, bersama-sama di USC," tulis Diah dalam unggahan Instagram-nya. Ungkapan ini menunjukkan betapa besar cintanya pada kedua putranya dan betapa ia bangga melihat mereka berhasil meraih cita-cita akademis.
Perbedaan rencana karier antara Marco dan sang kakak, Marcello, justru menjadi bukti bahwa setiap individu memiliki jalan dan potensi masing-masing. Marcello yang memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 di USC, menunjukkan bahwa ia memiliki minat dan ambisi yang berbeda dalam hal pendidikan dan karier. Sementara Marco, dengan keputusannya untuk pulang dan merintis karier di Indonesia, membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu harus diukur dari pencapaian akademik tertinggi atau pengalaman internasional semata. Pengalaman kerja di Tanah Air, membangun jaringan, dan berkontribusi langsung pada pembangunan negara, juga merupakan bentuk kesuksesan yang tidak kalah bernilainya.
Keputusan Marco untuk pulang kampung dan merintis karier di Indonesia juga dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Pertama, ini menunjukkan kematangan emosional dan kemandiriannya. Di usia yang masih sangat muda, ia mampu membuat keputusan besar yang akan memengaruhi masa depannya. Ia tidak tergiur oleh gemerlap kehidupan di luar negeri atau tekanan untuk mengikuti jejak kakaknya. Ia memiliki visi yang jelas tentang apa yang diinginkannya dan bagaimana cara mencapainya.
Kedua, ini mencerminkan rasa cinta tanah air yang kuat. Di tengah banyak generasi muda yang memilih untuk mencari peluang di luar negeri, Marco justru memilih untuk kembali dan memberikan kontribusi di negaranya. Hal ini sangat penting untuk pembangunan bangsa. Dengan kembali dan berkarya di Indonesia, ia berpotensi menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk tidak ragu membangun masa depan di Tanah Air.
Ketiga, ini adalah langkah strategis untuk membangun fondasi karier yang kuat. Dengan memulai karier di Indonesia sejak dini, Marco memiliki kesempatan untuk belajar seluk-beluk pasar kerja lokal, membangun jaringan profesional yang luas, dan mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri di Indonesia. Pengalaman ini akan sangat berharga baginya untuk dapat berkembang dan meraih kesuksesan jangka panjang.
Meskipun Marco belum merinci bidang karier spesifik yang akan ia tekuni, keterbukaan pikirannya untuk terjun ke dunia hiburan maupun sektor profesional menunjukkan bahwa ia siap untuk belajar dan beradaptasi. Pengalamannya mengenyam pendidikan di salah satu universitas terbaik dunia tentu akan menjadi bekal berharga, terlepas dari bidang apa pun yang ia pilih. Kemampuannya untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan baru, yang diasah selama di USC, akan sangat membantunya dalam meniti karier.
Dukungan dari Diah Permatasari juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan Marco. Seorang ibu yang bijaksana akan selalu mendukung pilihan anaknya, memberikan arahan jika diperlukan, namun tidak pernah memaksakan kehendaknya. Sikap Diah ini patut menjadi contoh bagi orang tua lainnya. Memberikan kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan menemukan jalannya sendiri adalah bentuk cinta yang sesungguhnya.
Kisah Marco ini memberikan perspektif baru tentang arti kesuksesan. Kesuksesan tidak melulu tentang gelar akademik tertinggi, karier di luar negeri, atau kekayaan materi. Kesuksesan juga dapat diartikan sebagai kebahagiaan dalam menjalani hidup, kemampuan untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar, dan kepuasan dalam mencapai tujuan pribadi. Marco, dengan pilihannya untuk pulang kampung dan merintis karier, menunjukkan bahwa ia telah menemukan definisi kesuksesannya sendiri.
Pilihan Marco untuk pulang kampung juga bisa dilihat sebagai bentuk realisasi dari semangat kewirausahaan. Dengan membuka diri terhadap berbagai peluang, ia menunjukkan bahwa ia siap untuk berinovasi dan menciptakan lapangan kerja baru. Kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan belajar dari pengalaman akan menjadi aset berharga dalam perjalanan kariernya.
Di masa depan, sangat menarik untuk melihat bagaimana Marco akan mengembangkan kariernya di Indonesia. Apakah ia akan mengikuti jejak ibunya di dunia hiburan, ataukah ia akan mengeksplorasi potensi lain di sektor profesional? Apapun pilihannya, yang terpenting adalah ia menemukan passion dan kebahagiaan dalam setiap langkah yang ia ambil. Dan dengan dukungan penuh dari keluarga, serta bekal pendidikan yang mumpuni, tidak diragukan lagi bahwa Marco akan mampu meraih kesuksesan yang gemilang di Tanah Air.
Kisah Marco ini juga dapat menjadi refleksi bagi generasi muda Indonesia. Pendidikan tinggi di luar negeri memang merupakan kesempatan yang sangat berharga, namun jangan sampai melupakan akar dan potensi yang ada di negeri sendiri. Banyak peluang dan tantangan yang bisa dihadapi dan diatasi di Indonesia. Dengan semangat juang, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan bagi bangsa.
Pada akhirnya, keputusan Marco untuk pulang kampung dan merintis karier adalah sebuah pernyataan kuat tentang komitmennya terhadap Indonesia. Ia memilih untuk menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penikmat hasil pembangunan. Ini adalah sebuah langkah yang patut diapresiasi dan dicontoh, terutama di kalangan anak-anak muda yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Dengan semangat seperti Marco, masa depan Indonesia akan semakin cerah. Keputusannya untuk fokus pada pengembangan diri dan kontribusi nyata di tanah air, menunjukkan bahwa ia adalah generasi penerus yang memiliki visi dan dedikasi tinggi.