Survei Mengejutkan: Popularitas Donald Trump Anjlok ke Titik Terendah, Mayoritas Warga AS Tolak Perang Melawan Iran dan Kebijakan Domestik yang Gagal

 Survei Mengejutkan: Popularitas Donald Trump Anjlok ke Titik Terendah, Mayoritas Warga AS Tolak Perang Melawan Iran dan Kebijakan Domestik yang Gagal

Survei Mengejutkan: Popularitas Donald Trump Anjlok ke Titik Terendah, Mayoritas Warga AS Tolak Perang Melawan Iran dan Kebijakan Domestik yang Gagal

Sebuah survei nasional yang dirilis oleh Quinnipiac University pada Rabu, 29 Juli 2026, mengungkap gambaran suram bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Popularitasnya merosot ke level terendah sejak kembali menjabat, dengan mayoritas warga Amerika menyatakan ketidakpuasan terhadap kinerjanya, terutama terkait kebijakan perang terhadap Iran dan penanganan isu domestik. Hasil jajak pendapat yang melibatkan 963 pemilih terdaftar di seluruh Amerika Serikat dari tanggal 23 hingga 27 Juli ini menunjukkan betapa dalamnya jurang pemisah antara pandangan publik dan arah kebijakan pemerintahan Trump.

Secara mengejutkan, hanya 32 persen pemilih terdaftar yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump sebagai presiden. Angka ini merupakan rekor terendah yang pernah dicatat dalam survei Quinnipiac selama masa kepemimpinannya. Sebaliknya, 58 persen responden mengaku tidak puas, menandakan adanya gelombang sentimen negatif yang signifikan terhadap kepemimpinannya. Ketidakpuasan ini tidak hanya mencakup isu-isu luar negeri, tetapi juga merambah ke berbagai sektor kebijakan domestik yang menjadi prioritas Trump.

Salah satu temuan paling mencolok dari survei ini adalah penolakan publik yang menguat terhadap potensi operasi militer Amerika Serikat di Iran. Sebanyak 60 persen responden secara tegas menyatakan menentang aksi militer AS terhadap Iran, sementara hanya 34 persen yang mendukung langkah tersebut. Pola penolakan ini sangat terlihat di kalangan pemilih Partai Demokrat, di mana angka penolakan mencapai 89 persen. Para pemilih independen juga menunjukkan keberatan yang signifikan, dengan 69 persen menyatakan penolakan. Meskipun demikian, dukungan terhadap kebijakan Trump masih cukup kuat di kubu Partai Republik, dengan 74 persen responden mendukung operasi militer terhadap Iran. Perbedaan pandangan yang tajam antara kedua partai ini mencerminkan polarisasi politik yang semakin dalam di Amerika Serikat, terutama dalam isu-isu keamanan nasional yang sensitif.

Lebih jauh lagi, mayoritas warga Amerika tidak hanya menolak serangan militer secara umum, tetapi juga secara spesifik menentang rencana pengiriman pasukan darat ke Iran. Survei menunjukkan bahwa 74 persen responden menolak pengerahan tentara AS ke wilayah Iran, sementara hanya 19 persen yang mendukung opsi tersebut. Tingginya angka penolakan ini mengindikasikan kekhawatiran publik akan eskalasi konflik dan potensi korban jiwa yang lebih besar.

Persepsi publik terhadap jalannya potensi konflik juga cenderung negatif. Mayoritas responden, sebanyak 55 persen, meyakini bahwa perang dengan Iran tidak akan berakhir dalam waktu dekat dan diperkirakan akan berlangsung sekitar satu tahun atau lebih. Bahkan, 35 persen lainnya memperkirakan konflik akan berlanjut melampaui satu tahun. Prediksi yang pesimistis ini menunjukkan kurangnya kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintahan Trump untuk menyelesaikan konflik secara cepat dan efektif.

Selain itu, persepsi publik terhadap posisi Amerika Serikat dalam konflik yang mungkin terjadi juga sangat mengkhawatirkan bagi pemerintahan Trump. Sebanyak 54 persen responden menilai Amerika Serikat tidak berada di pihak yang memenangkan konflik dengan Iran. Hanya 36 persen yang berpendapat AS berada dalam posisi unggul. Penilaian negatif ini dapat berdampak pada moral publik dan dukungan terhadap kebijakan luar negeri pemerintah.

Di luar isu perang, penilaian publik terhadap kinerja Trump di bidang ekonomi juga ikut memburuk secara signifikan. Hanya 34 persen responden yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump dalam mengelola perekonomian, sementara 62 persen mengaku tidak puas. Angka ini menunjukkan bahwa janji-janji ekonomi Trump belum sepenuhnya terwujud di mata masyarakat, atau bahkan justru memburuk.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 59 persen warga Amerika menilai kondisi ekonomi negara terus memburuk. Kekhawatiran ini diperkuat oleh pengakuan pribadi dari 49 persen responden yang menyatakan kondisi keuangan pribadi mereka kini lebih buruk dibandingkan satu tahun lalu. Sentimen ekonomi yang negatif ini dapat menjadi faktor penentu dalam pemilihan umum mendatang, karena isu ekonomi seringkali menjadi prioritas utama bagi pemilih.

Isu imigrasi, yang selama ini menjadi salah satu agenda utama dan ciri khas kebijakan Trump, juga tidak luput dari penilaian negatif publik. Tingkat kepuasan publik terhadap penanganan isu imigrasi oleh Trump masih berada di bawah angka mayoritas. Sebanyak 40 persen responden menyatakan puas terhadap kebijakan imigrasi, sedangkan 57 persen menyatakan tidak puas. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan imigrasi Trump, yang seringkali kontroversial, tidak mendapatkan dukungan luas dari masyarakat.

Analisis lebih dalam terhadap data survei ini memberikan beberapa poin penting yang perlu dicermati. Pertama, penolakan terhadap perang dengan Iran menunjukkan adanya pergeseran sentimen publik yang signifikan. Publik Amerika tampaknya lebih mengutamakan solusi diplomatik dan enggan terlibat dalam konflik militer yang berpotensi mahal dan berkepanjangan. Kedua, memburuknya persepsi ekonomi, baik secara makro maupun mikro, dapat menjadi pukulan telak bagi Trump, yang seringkali mengandalkan narasi keberhasilan ekonomi sebagai salah satu pilar kampanyenya. Ketiga, ketidakpuasan terhadap penanganan isu imigrasi menandakan bahwa pendekatan yang keras dan restriktif tidak lagi diterima secara luas oleh masyarakat.

Secara keseluruhan, survei Quinnipiac University ini melukiskan gambaran yang sangat menantang bagi Donald Trump. Tingkat persetujuan yang rendah, penolakan publik terhadap kebijakan luar negeri yang agresif, dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik, semuanya menunjukkan bahwa popularitasnya sedang berada di titik terendah. Hasil ini menjadi peringatan keras bagi tim kampanye Trump dan menunjukkan bahwa ia perlu melakukan penyesuaian strategi yang signifikan jika ingin membalikkan keadaan sebelum pemilihan umum mendatang. Perhatian publik yang terbelah antara isu luar negeri yang mencekam dan masalah ekonomi yang mendesak, serta kekecewaan terhadap janji-janji yang belum terpenuhi, menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh Presiden Trump saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *