Disdikbud Pesisir Selatan Larang Siswa Keluar Lingkungan Sekolah demi Menjemput Ompreng Makan Bergizi Gratis

 Disdikbud Pesisir Selatan Larang Siswa Keluar Lingkungan Sekolah demi Menjemput Ompreng Makan Bergizi Gratis

Disdikbud Pesisir Selatan Larang Siswa Keluar Lingkungan Sekolah demi Menjemput Ompreng Makan Bergizi Gratis

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) mengeluarkan instruksi tegas yang melarang seluruh siswa di wilayahnya untuk keluar dari lingkungan sekolah saat hendak mengambil jatah makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini diambil sebagai respons cepat terhadap insiden kecelakaan yang menimpa seorang siswa di Nagari Salido Kecil, Kecamatan IV Jurai, yang dikabarkan mengalami luka akibat terjatuh saat berupaya menjemput paket makanan tersebut di luar area sekolah.

Kepala Disdikbud Pesisir Selatan, Salim Muhaimin, menekankan bahwa prosedur operasional standar dalam penyelenggaraan program ini harus mengutamakan keselamatan dan kenyamanan siswa di atas segalanya. Menurutnya, mekanisme distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seharusnya bersifat "door-to-door" atau diantarkan langsung ke titik yang ditentukan di dalam sekolah, bukan sebaliknya di mana siswa harus menjemput keluar. "Hal tersebut sama sekali tidak dibenarkan. Dalam ketentuan SPPG, makanan harus sampai di sekolah, dan siswa dilarang keras meninggalkan halaman sekolah hanya untuk menjemput jatah makanannya," tegas Salim Muhaimin saat memberikan keterangan.

Kasus yang menimpa siswa di SDN 24 Salido Kecil ini menjadi tamparan keras sekaligus evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem Program Makan Bergizi Gratis. Video yang beredar luas di media sosial Facebook tersebut memicu kekhawatiran orang tua murid terkait sistem pengawasan dan distribusi logistik di lapangan. Menanggapi viralnya kejadian tersebut, Disdikbud Pessel tidak ingin gegabah dan saat ini tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan kronologi yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Pihak sekolah yang bersangkutan saat ini sedang diinstruksikan untuk menyusun laporan tertulis secara detail mengenai insiden tersebut. Salim menjelaskan bahwa laporan ini sangat krusial untuk menentukan langkah administratif berikutnya. "Kami sedang menunggu laporan resmi dari pihak sekolah. Setelah laporan tersebut dinyatakan valid dan komprehensif, kami akan segera melayangkan surat teguran resmi kepada pihak SPPG. Kami akan menekankan kembali bahwa distribusi harus dilakukan di lingkungan sekolah, dan pihak SPPG wajib mematuhi protokol keselamatan anak," tambahnya.

Lebih lanjut, Disdikbud Pessel telah mengerahkan jajaran koordinator wilayah (Korwil) untuk turun langsung ke lapangan. Tim ini bertugas untuk memverifikasi lokasi kejadian, meminta keterangan dari pihak sekolah serta saksi mata, dan memastikan bahwa tidak ada lagi prosedur yang membahayakan siswa di kemudian hari. Kehadiran tim lapangan ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai kendala teknis yang dihadapi oleh SPPG dalam mendistribusikan makanan hingga ke dalam lingkungan sekolah.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan program strategis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak-anak sekolah. Namun, keberhasilan program ini tentu tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan fisik siswa. Disdikbud Pessel berkomitmen untuk terus mengawal agar implementasi program di Pesisir Selatan tetap berada pada jalur yang benar. Pemerintah daerah menyadari bahwa tantangan distribusi di wilayah dengan geografis yang beragam seperti Pesisir Selatan memang cukup kompleks, namun hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan siswa menanggung risiko di luar pagar sekolah.

Selain langkah evaluasi terhadap SPPG, Disdikbud Pessel juga akan melakukan koordinasi dengan pihak kepala sekolah agar lebih memperketat pengawasan terhadap siswa selama jam makan siang. Pihak sekolah diminta untuk memastikan bahwa setiap titik distribusi makanan berada di area yang aman, higienis, dan mudah dijangkau oleh siswa tanpa harus melewati jalur lalu lintas yang padat atau area berbahaya lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Disdikbud Pessel belum memutuskan apakah akan memberikan sanksi tegas kepada SPPG terkait, namun mereka memastikan bahwa evaluasi akan dilakukan secara objektif. Jika ditemukan adanya kelalaian sistemik dari pihak penyedia jasa makanan, Disdikbud tidak akan segan untuk melakukan evaluasi kontrak atau memberikan teguran keras demi menjaga marwah program pemerintah pusat ini.

Masyarakat dan orang tua murid diimbau untuk tetap tenang namun tetap kritis dalam mengawal pelaksanaan program di sekolah masing-masing. Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Dinas Pendidikan berjanji akan terus transparan dalam menangani kasus ini dan memastikan bahwa hak-hak siswa untuk mendapatkan gizi yang layak dapat terpenuhi dengan cara yang paling aman bagi anak-anak. Insiden di Salido Kecil diharapkan menjadi kasus pertama dan terakhir yang terjadi di Pesisir Selatan, sehingga sinergi antara sekolah, penyedia gizi, dan dinas pendidikan dapat berjalan harmonis ke depannya demi keberhasilan program yang menargetkan generasi masa depan yang sehat dan cerdas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *