Universitas Negeri Padang Dampingi Karang Taruna Koto Laweh Produksi Konten Kreatif untuk Promosi Pariwisata
Universitas Negeri Padang Dampingi Karang Taruna Koto Laweh Produksi Konten Kreatif untuk Promosi Pariwisata
Dalam upaya mengakselerasi transformasi digital di tingkat desa, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Padang (UNP), sukses menyelenggarakan pelatihan intensif bertajuk “Pendampingan Pembuatan Konten Kreatif Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Lokal sebagai Upaya Promosi Nagari”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (28/7/2026) di Kantor Wali Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar ini, menjadi momentum krusial bagi generasi muda setempat untuk mengubah wajah pariwisata daerah melalui lensa digital yang lebih modern dan kompetitif.
Nagari Koto Laweh, yang secara geografis menyimpan kekayaan alam dan warisan budaya yang memukau, selama ini memang memiliki potensi besar namun belum tergarap maksimal dalam aspek promosi digital. Fenomena ini yang kemudian dibaca oleh tim akademisi UNP sebagai celah untuk melakukan intervensi edukatif. Fokus utama kegiatan ini adalah memberdayakan Karang Taruna, sebagai ujung tombak penggerak komunitas, agar memiliki kompetensi teknis dan strategis dalam mengelola narasi digital.
Wali Nagari Koto Laweh, Mulyadi, S.D. Mantari Basa, yang membuka kegiatan secara resmi, memberikan apresiasi mendalam atas inisiatif UNP. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa era disrupsi informasi saat ini menuntut setiap wilayah, termasuk nagari, untuk lebih adaptif. Menurut Mulyadi, ketergantungan pada metode promosi konvensional sudah tidak lagi relevan di tengah pesatnya penetrasi media sosial. Ia berharap, melalui pelatihan ini, Karang Taruna mampu menjadi duta digital yang mampu mengemas kearifan lokal menjadi konten yang memiliki nilai jual tinggi di pasar wisata nasional maupun internasional.
Ketua Tim Pengabdian UNP, Annisa Citra Triyandra, S.I.Kom., M.I.Kom., dalam pemaparannya menegaskan bahwa konten bukan sekadar unggahan visual, melainkan instrumen komunikasi strategis. Ia menjelaskan bahwa media sosial telah bertransformasi menjadi identitas baru bagi sebuah daerah. "Membangun citra positif nagari tidak bisa dilakukan secara instan atau asal-asalan. Dibutuhkan perencanaan yang matang, konsistensi, dan pemahaman mendalam tentang siapa audiens yang ingin disasar. Inilah yang ingin kami tanamkan kepada para pemuda di Koto Laweh," ungkap Annisa.
Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan kurikulum yang komprehensif, menggabungkan landasan teoritis dengan praktik langsung di lapangan. Materi pertama yang disampaikan oleh Hanafi Saputra, S.Pd., M.A., berfokus pada "Potensi dan Branding Nagari". Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melakukan refleksi kolektif mengenai apa yang membuat Koto Laweh unik dibandingkan wilayah lainnya di Tanah Datar. Hanafi menekankan pentingnya unique selling point (USP) sebagai fondasi utama dalam membangun branding daerah. Tanpa identitas yang kuat, konten kreatif hanya akan menjadi kebisingan digital yang mudah terlupakan.
Memasuki sesi teknis, Sri Oktika Amran, S.I.Kom., M.Si bersama timnya, Fatimah Az-Zahra, memberikan pelatihan yang lebih praktikal mengenai "Strategi dan Produksi Konten Media Sosial". Sesi ini menjadi favorit peserta karena langsung menyentuh sisi teknis yang selama ini menjadi kendala, seperti teknik pengambilan gambar menggunakan smartphone, penyusunan kalender konten, hingga seni storytelling (bercerita) yang mampu menyentuh emosi audiens.
Peserta diberikan pemahaman bahwa algoritma media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube tidak hanya menghargai kualitas visual, tetapi juga keterlibatan audiens (engagement). Oleh karena itu, para pemuda Karang Taruna diajarkan cara menyusun narasi yang mampu memancing interaksi, mulai dari penggunaan caption yang persuasif hingga teknik editing video pendek yang dinamis. Strategi untuk meningkatkan jangkauan konten juga dibedah secara mendalam, termasuk pentingnya penggunaan kata kunci yang relevan dan pemilihan waktu unggah yang tepat.
Dampak jangka panjang yang diharapkan dari program ini adalah terbentuknya ekosistem kreatif di Koto Laweh. Tim UNP tidak hanya berhenti pada pemberian materi, tetapi juga memberikan pendampingan berkelanjutan untuk memastikan bahwa semangat berkarya para pemuda tidak padam setelah kegiatan berakhir. Dengan memiliki kemampuan mandiri dalam memproduksi konten, diharapkan Nagari Koto Laweh dapat lebih mandiri dalam mengelola promosi pariwisatanya sendiri, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kunjungan wisatawan.
Peningkatan kunjungan wisatawan ini diproyeksikan akan memberikan efek domino pada pertumbuhan ekonomi lokal. Ketika destinasi wisata di Koto Laweh semakin dikenal melalui konten kreatif yang viral atau setidaknya konsisten di media sosial, maka sektor-sektor penunjang seperti UMKM, kuliner khas nagari, serta jasa pemandu wisata akan ikut terangkat. Ekonomi kreatif dan pariwisata yang berjalan beriringan adalah kunci bagi keberlanjutan pembangunan nagari di era modern.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga menjadi ajang penguatan literasi digital bagi masyarakat. Di tengah maraknya hoaks dan informasi negatif di ruang siber, hadirnya konten positif tentang potensi daerah dapat menjadi penyeimbang. Karang Taruna sebagai agen perubahan diharapkan mampu menjadi penyaring informasi dan pembawa narasi optimisme. Dengan mengedepankan nilai-nilai lokalitas yang dibalut teknologi, Koto Laweh kini memiliki amunisi baru untuk bersaing di panggung pariwisata Sumatera Barat.
Pelatihan yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme ini diakhiri dengan sesi evaluasi karya, di mana peserta mencoba mempraktikkan langsung apa yang telah dipelajari dengan membuat konten promosi singkat tentang salah satu spot wisata di Koto Laweh. Hasilnya cukup membanggakan, di mana banyak peserta mampu menangkap esensi keindahan alam dengan gaya bercerita yang segar dan relevan dengan tren media sosial saat ini.
Komitmen Universitas Negeri Padang dalam mengabdi kepada masyarakat melalui skema ini membuktikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran vital sebagai jembatan ilmu pengetahuan bagi masyarakat akar rumput. Sinergi antara akademisi dan generasi muda di tingkat nagari adalah formula yang tepat untuk menghadapi tantangan zaman. Ke depan, diharapkan model pendampingan serupa dapat diterapkan di nagari-nagari lain, menciptakan jaringan promosi wisata berbasis komunitas yang kuat, kreatif, dan berdaya saing global, menjadikan Koto Laweh sebagai salah satu prototipe sukses digitalisasi desa di Kabupaten Tanah Datar.