Jelang Muktamar NU, Kiai Jombang Ingatkan Bahaya Politik Uang dan Pentingnya Semangat Khidmah
Jelang Muktamar NU, Kiai Jombang Ingatkan Bahaya Politik Uang dan Pentingnya Semangat Khidmah
AKURAT.CO – Menjelang penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, atmosfer persaingan untuk menduduki posisi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai terasa semakin memanas. Di tengah dinamika yang berkembang, seorang ulama kharismatik asal Jombang, KH Mustain Hasan, secara tegas menyampaikan peringatan keras agar seluruh proses pemilihan tidak tercemari oleh praktik-praktik tercela seperti politik uang. Beliau menekankan bahwa figur yang terpilih sebagai nakhoda PBNU idealnya tidak hanya memiliki kompetensi manajerial dan organisasional yang mumpuni, tetapi yang terpenting adalah memiliki komitmen yang mendalam dan tanpa pamrih untuk mengabdikan diri serta berkhidmat kepada NU.
KH Mustain Hasan berpandangan bahwa pemimpin PBNU di masa mendatang haruslah sosok yang mampu memahami, meresapi, dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur serta cita-cita mulia yang telah diwariskan oleh para pendiri NU. "Yang paling krusial adalah bagaimana calon pemimpin tersebut mampu menjiwai semangat para pendiri NU, mengabdi dengan ketulusan hati, bukan semata-mata berlomba untuk mengejar sebuah jabatan," ujar KH Mustain Hasan dalam sebuah wawancara yang berlangsung di kediamannya di Jombang pada hari Senin, 27 Juli 2026.
Beliau secara eksplisit mengidentifikasi politik uang sebagai salah satu ancaman serius yang perlu diantisipasi secara cermat dan komprehensif dalam setiap tahapan proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Menurut KH Mustain Hasan, Muktamar NU, sebagai forum tertinggi pengambilan keputusan organisasi, seyogianya tidak boleh disalahgunakan atau berubah fungsi menjadi sebuah arena perebutan kekuasaan yang menyerupai kontestasi politik praktis di tingkat pemerintahan, baik itu pemilihan kepala daerah (pilkada) maupun pemilihan presiden (pilpres).
KH Mustain Hasan kemudian mengajak seluruh elemen warga NU untuk meneladani sikap dan etos para tokoh pendahulu dalam organisasi ini. Beliau mencontohkan kisah inspiratif dari saudagar terkemuka, Hasan Gipo, yang pada masa awal pembentukan NU pernah dengan tegas menolak untuk menerima amanah sebagai pemimpin organisasi karena merasa khawatir akan ketidakmampuannya dalam menjalankan tanggung jawab yang begitu besar tersebut. Sikap serupa, lanjut KH Mustain Hasan, juga pernah ditunjukkan oleh KH Mahfudz Siddiq, yang menunjukkan kedalaman integritas dan kehati-hatian dalam menerima sebuah tanggung jawab kepemimpinan.
"Jangan sampai terjadi sebuah fenomena rebutan jabatan yang mengorbankan nilai-nilai luhur NU, apalagi sampai praktik money politics merajalela, seperti yang kerap kita saksikan dalam kontestasi pilkades atau pilpres. Perilaku semacam itu jelas sangat bertentangan dengan adab dan etika yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap warga NU," tegas KH Mustain Hasan dengan nada yang sungguh-sungguh.
Beliau mengungkapkan harapan besar agar Muktamar NU ke-35 ini dapat terlaksana dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pengabdian yang tulus, menjaga integritas moral yang kokoh, serta mengedepankan semangat khidmah (pelayanan dan pengabdian) sebagai prioritas utama. Harapan tersebut sangat jelas, yaitu agar Muktamar ini benar-benar menjadi ajang untuk memilih pemimpin yang akan membawa NU semakin maju, bukan untuk memuaskan kepentingan pribadi maupun untuk memperebutkan kekuasaan semata.
Lebih lanjut, KH Mustain Hasan memaparkan bahwa politik uang merupakan virus yang dapat merusak tatanan organisasi keagamaan seperti NU. Ia mengibaratkan politik uang sebagai racun yang perlahan namun pasti dapat menggerogoti integritas dan kepercayaan publik terhadap NU. "Jika uang menjadi penentu, maka yang terpilih bukanlah orang yang paling layak, melainkan orang yang paling kaya atau paling royal. Ini akan berakibat pada kualitas kepemimpinan yang dihasilkan, yang pada gilirannya akan merugikan seluruh warga NU dan umat Islam secara umum," jelasnya.
KH Mustain Hasan mengingatkan bahwa NU didirikan atas dasar semangat perjuangan untuk menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah, memajukan kesejahteraan umat, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat inilah yang seharusnya menjadi landasan utama dalam memilih pemimpin, bukan sekadar kalkulasi politik atau iming-iming materi.
Beliau juga menyoroti pentingnya proses regenerasi kepemimpinan di PBNU agar berjalan secara sehat dan demokratis. Proses ini harus memberikan ruang bagi kader-kader muda NU yang memiliki potensi dan kapasitas untuk berkiprah di tingkat nasional. Namun, proses regenerasi ini harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip organisasi dan tidak terburu-buru atau dipaksakan.
"Kita harus belajar dari sejarah. Banyak tokoh NU terdahulu yang sangat hati-hati dalam menerima amanah. Mereka tidak pernah berebut kekuasaan. Mereka justru lebih mengutamakan bagaimana NU bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar KH Mustain Hasan.
Ia menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi NU saat ini semakin kompleks. Mulai dari isu radikalisme, intoleransi, hingga tantangan ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan pemimpin PBNU yang memiliki visi jauh ke depan, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan berbagai pihak.
"Pemimpin PBNU harus mampu menjadi perekat umat, bukan pemecah belah. Harus bisa menjadi jembatan antara ulama dan umara, antara tradisi dan modernitas," tegasnya.
KH Mustain Hasan juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses pengambilan keputusan di PBNU. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang.
"Muktamar adalah momentum untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan menentukan arah perjuangan NU ke depan. Jangan sampai momentum ini disia-siakan hanya untuk kepentingan segelintir orang," katanya.
Beliau berharap agar seluruh peserta Muktamar NU ke-35 dapat menggunakan hak pilihnya dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Pilihlah pemimpin yang benar-benar memiliki kepedulian terhadap NU dan umat, yang memiliki integritas moral yang tinggi, serta yang mampu membawa NU menjadi organisasi yang lebih besar, kuat, dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.
"Mari kita jadikan Muktamar ini sebagai sarana untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan warga NU, serta untuk meneguhkan kembali komitmen kita terhadap cita-cita para pendiri NU. Hindari segala bentuk praktik yang dapat mencederai nilai-nilai luhur organisasi kita," pungkas KH Mustain Hasan.
Peringatan dari KH Mustain Hasan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh warga NU untuk senantiasa menjaga marwah organisasi dalam setiap tahapan pemilihan kepemimpinan. Semangat khidmah dan pengabdian yang tulus harus menjadi kompas utama, bukan ambisi pribadi atau godaan materi yang dapat menjerumuskan NU ke dalam jurang masalah. Dengan demikian, Muktamar NU ke-35 diharapkan dapat berjalan lancar, menghasilkan pemimpin yang amanah, serta semakin memperkuat peran NU sebagai pilar kebangsaan dan penjaga nilai-nilai luhur agama.