UNP Kembangkan Model Nagari Siaga Galodo Berbasis Budaya dan Teknologi Digital di Tanah Datar
Tim Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) 2026 secara resmi meluncurkan inisiatif strategis dalam mengembangkan Model Nagari Siaga Galodo yang mengintegrasikan kearifan budaya lokal, pemanfaatan teknologi digital, dan partisipasi aktif masyarakat di Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, pada Kamis (20/8/2026). Program ini hadir sebagai respons proaktif terhadap tingginya kerentanan wilayah Sumatera Barat, khususnya Tanah Datar, terhadap ancaman banjir bandang atau galodo, dengan tujuan utama memperkuat resiliensi komunitas melalui pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Wali Nagari Sumpur ini dipimpin oleh pakar dari Universitas Negeri Padang (UNP), Fauzana Fauzan El Muhammady, S.Sos., M.Si., MS., Ph.D. Tim pelaksana terdiri dari para akademisi multidisiplin yakni Dr. Adri Febrianto, M.Si.; Dr. Muhammad Hidayat, S.Hum., M.A.; Novia Amirah Azmi, S.Kom., S.Sos., M.I.Kom.; Riza Wardefi, M.Th.I.; dan Trie Rahmi Gettari, S.H., M.H. Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari satuan tugas kebencanaan, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemuda Nagari Sumpur hadir untuk menyerap materi serta merumuskan strategi mitigasi. Kehadiran dua praktisi kebencanaan, yaitu Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tanah Datar, Purwanto, SP., MPH, dan Sekretaris BPBD Kota Padang, Robert Candra Eka Putra, S.Sos., M.Si., memberikan bobot teknis yang mendalam pada kegiatan tersebut.
Fauzana Fauzan El Muhammady menegaskan bahwa model yang dikembangkan ini tidak bersifat top-down, melainkan dirancang dengan mengakomodasi karakter sosial dan budaya masyarakat nagari. Menurutnya, mitigasi bencana tidak akan efektif jika hanya mengandalkan aspek teknis tanpa memahami sosiologi masyarakat setempat. "Pengabdian ini bertujuan untuk menciptakan model kesiapsiagaan yang menyatukan integrasi budaya, teknologi digital, dan partisipasi lokal agar kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko galodo benar-benar meningkat secara signifikan," ujarnya.
Pemilihan Nagari Sumpur sebagai pilot project didasarkan pada rekam jejak wilayah tersebut yang sempat terpapar dampak banjir bandang pada 27 November 2025. Wali Nagari Sumpur, Fernando Sutan Sati, menyatakan bahwa meskipun tidak terdapat korban jiwa di wilayahnya, peristiwa tersebut menjadi lonceng peringatan akan urgensi kesiapsiagaan kolektif. Fernando menyambut baik kolaborasi dengan pihak akademisi, terutama karena program ini menyasar hingga ke sektor pendidikan, melibatkan kepala sekolah TK, SD, dan SMP yang berada di dekat aliran sungai untuk memastikan literasi kebencanaan merata ke seluruh lapisan usia.
Dalam sesi pemaparan, Purwanto menekankan bahwa manajemen kebencanaan harus dilakukan secara holistik dalam tiga fase utama: prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Mengacu pada data BPBD, ia menyoroti urgensi kesiapsiagaan di Tanah Datar yang memiliki profil risiko bencana cukup tinggi. Tercatat sebanyak 198 kejadian bencana terjadi sepanjang tahun 2025, sementara hingga Juli 2026 sudah terjadi 69 insiden. Data statistik ini mencatat 6.137 pengungsi dengan tiga korban jiwa dan lima korban luka-luka. Untuk menekan angka risiko, BPBD memperkenalkan sistem "SITANGKAS" sebagai platform digital untuk pelaporan cepat dan distribusi informasi bencana bagi masyarakat dan satuan tugas di tingkat nagari.
Robert Candra Eka Putra menambahkan dimensi teknis terkait pentingnya kajian risiko, mulai dari pemetaan ancaman, jalur evakuasi, pemasangan rambu, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang terukur. Ia menekankan bahwa masyarakat harus memiliki "muscle memory" atau ingatan tindakan melalui simulasi rutin, sehingga ketika bencana terjadi, kepanikan dapat diminimalisir.
Diskusi interaktif menjadi puncak acara, di mana warga Sumpur secara terbuka mengangkat berbagai tantangan riil di lapangan. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah identifikasi tanda-tanda alam atau "kearifan lokal" dalam membaca potensi kedatangan aia gadang (air bah). Selain itu, terdapat pembahasan mendalam mengenai dilema penetapan zona merah, tantangan relokasi warga dari kawasan berisiko tinggi, serta prosedur keselamatan bagi para relawan saat melakukan evakuasi. Persoalan-persoalan ini membuktikan bahwa pendekatan teknologi harus selalu dibarengi dengan pendekatan budaya agar kebijakan yang diambil tidak berbenturan dengan nilai-nilai masyarakat setempat.
Sebagai output dari program ini, tim PPUB menargetkan penyusunan "Panduan Digital Nagari Siaga Galodo." Buku panduan ini tidak hanya berisi langkah praktis, tetapi juga mengintegrasikan data digital dengan pengetahuan tradisional. Model ini diharapkan menjadi prototipe yang dapat direplikasi oleh nagari-nagari lain di Sumatera Barat yang memiliki karakteristik geografis serupa. Dengan menggabungkan kecanggihan teknologi digital dan kekuatan gotong royong berbasis budaya, Nagari Sumpur diharapkan mampu bertransformasi menjadi komunitas yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi ancaman bencana di masa depan, sekaligus memastikan bahwa setiap langkah mitigasi yang diambil memiliki legitimasi kuat di mata warga lokal. Program ini merupakan langkah nyata UNP dalam mengabdi kepada masyarakat melalui riset yang berdampak langsung bagi keselamatan jiwa dan perlindungan aset masyarakat di tingkat tapak.
