Berita Terkini Indonesia
Uncategorized

PKM-MUB Unand Ubah Perca Songket Silungkang Jadi Produk Fesyen, Tembus Pasar Nasional

September 26, 2026 • LITOLOGI

PKM-MUB Unand Ubah Perca Songket Silungkang Jadi Produk Fesyen, Tembus Pasar Nasional

Perca kain songket yang selama ini dianggap sebagai limbah produksi kini mengalami transformasi nilai yang signifikan. Di tangan kreatif Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sigek Art yang berlokasi di Desa Silungkang Duo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, sisa-sisa kain mewah tersebut disulap menjadi produk fesyen fungsional bernilai jual tinggi, seperti tas kerja, dompet, pouch, hingga tas ponsel. Langkah inovatif ini kini semakin terakselerasi berkat pendampingan dari tim Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang (PKM-MUB) Universitas Andalas (Unand) yang fokus pada penguatan ekosistem digital dan branding usaha.

Sigek Art bukanlah pemain baru dalam industri kreatif di Sumatra Barat. Usaha yang dirintis sejak tahun 2018 dan secara resmi dikukuhkan sebagai kelompok usaha bersama pada tahun 2021 ini telah menunjukkan konsistensi dalam mengolah limbah tekstil menjadi barang bernilai ekonomi. Produk-produk mereka telah mendapatkan pengakuan dari berbagai instansi besar, mulai dari pesanan khusus Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, hingga kemitraan strategis dengan Rumah BUMN Padang, Rumah BUMN Muara Enim, hingga korporasi besar seperti MIND ID di Jakarta. Dengan volume produksi mencapai 300 unit per bulan dan omzet rata-rata Rp6 juta, kiprah mereka bahkan sempat mencuri perhatian nasional melalui tayangan program "Inspirasi Indonesia" di stasiun televisi nasional SCTV dan TVRI.

Namun, di balik kesuksesan tersebut, KUB Sigek Art menghadapi tantangan klasik yang sering dialami oleh pelaku UMKM di daerah: ketergantungan pasar. Selama ini, arus penjualan produk Sigek Art masih sangat bergantung pada pesanan instansi pemerintah dan jaringan relasi pribadi. Identitas merek di platform media sosial belum tergarap dengan serius dan profesional. Padahal, di tengah ketatnya persaingan produk kreatif berbasis kearifan lokal, kemampuan untuk menarasikan nilai budaya melalui kanal digital merupakan kunci krusial untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.

Melihat urgensi tersebut, tim PKM-MUB Unand yang digawangi oleh akademisi berpengalaman, yaitu Revi Marta, S.Sos., M.I.Kom. sebagai koordinator, bersama dengan Ilham Havifi, M.I.Kom., dan Dr. Elvina Primayesi, S.E., M.Si., turun langsung untuk memetakan dan memberikan solusi strategis. Program ini tidak sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga melibatkan mahasiswa dalam kerangka pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat. Sinergi ini bertujuan untuk mentransformasi cara pandang pelaku usaha dalam mengelola bisnis di era digital.

Salah satu fokus utama pendampingan adalah literasi digital. Anggota KUB Sigek Art dibekali dengan keterampilan praktis mulai dari pengelolaan media sosial yang efektif, teknik fotografi produk yang memikat, hingga penyusunan strategi konten (content marketing) yang mampu mengangkat "storytelling" atau narasi di balik kain songket Silungkang. Tim pendamping menekankan bahwa yang dijual bukanlah sekadar tas dari kain perca, melainkan sebuah karya seni yang menyimpan nilai sejarah dan warisan budaya Minangkabau. Strategi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah (added value) yang membedakan produk Sigek Art dengan produk serupa di pasaran.

Untuk mendukung keberlanjutan strategi tersebut, tim PKM-MUB Unand juga memberikan bantuan sarana pendukung produksi yang memadai. Fasilitas yang diberikan meliputi mini photo studio yang dilengkapi dengan sistem pencahayaan LED agar visual produk tampil lebih tajam dan profesional. Selain itu, mesin heat press label disediakan untuk memperkuat identitas merek pada setiap produk. Tidak ketinggalan, pelatihan penggunaan aplikasi desain grafis yang mudah dioperasikan (user-friendly) diberikan agar anggota KUB dapat memproduksi konten promosi secara mandiri tanpa harus bergantung pada desainer profesional eksternal.

Pentingnya inisiatif ini tidak terlepas dari posisi strategis Kota Sawahlunto. Sebagai daerah yang menyandang status Warisan Dunia UNESCO berkat kawasan tambang batubaranya, Sawahlunto memiliki tanggung jawab moral dan ekonomi untuk menjaga kelestarian warisan budaya, termasuk kerajinan songket Silungkang. Keberhasilan KUB Sigek Art dalam mengelola limbah perca songket menjadi produk fesyen modern adalah bentuk nyata dari ekonomi sirkular yang sejalan dengan semangat pelestarian warisan dunia. Jika usaha ini berkembang, maka ia tidak hanya akan menyejahterakan para perajin lokal, tetapi juga menjadi duta budaya yang memperkenalkan keindahan songket Silungkang ke pasar nasional hingga mancanegara.

Pendampingan dari Unand ini diharapkan menjadi titik balik bagi Sigek Art untuk keluar dari "zona nyaman" pasar lokal. Dengan digitalisasi yang terarah, jangkauan konsumen yang tadinya terbatas pada relasi instansi kini bisa merambah ke pasar ritel daring yang tak terbatas oleh geografis. Produk-produk yang memiliki narasi kuat tentang keberlanjutan lingkungan (melalui pemanfaatan limbah) dan kelestarian budaya (melalui penggunaan songket) memiliki daya tarik unik bagi generasi milenial dan Gen Z yang kini semakin peduli pada konsumsi etis.

Lebih jauh, keberhasilan program ini akan menjadi best practice bagi UMKM lainnya di Sumatra Barat. Model pengabdian yang mengintegrasikan antara keterampilan teknis produksi, penguatan branding, dan pemanfaatan teknologi digital terbukti mampu memberikan dampak nyata. Sigek Art kini tidak hanya sekadar kelompok usaha yang memproduksi tas, tetapi telah bertransformasi menjadi unit bisnis kreatif yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Ke depannya, keberlanjutan program ini akan terus dipantau. Tim PKM-MUB Unand berkomitmen untuk tidak sekadar memberikan pelatihan sekali jalan, melainkan melakukan pendampingan secara berkala hingga KUB Sigek Art mampu mandiri sepenuhnya dalam mengelola operasional bisnis digitalnya. Sinergi antara dunia akademis dan sektor riil ini diharapkan mampu menciptakan efek domino yang positif bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Sawahlunto.

Dengan kombinasi antara bahan baku songket yang legendaris, kreativitas pengrajin yang mumpuni, dan dukungan strategi pemasaran digital yang modern, produk-produk Sigek Art memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas fesyen unggulan. Setiap tas, dompet, atau pouch yang terjual bukan hanya membawa keuntungan finansial bagi para anggota kelompok usaha, tetapi juga membawa pesan tentang kebanggaan terhadap identitas lokal yang dikemas dengan cara yang elegan dan kekinian.

Langkah yang diambil oleh tim PKM-MUB Unand ini merupakan bukti nyata bahwa perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menjembatani kesenjangan antara potensi lokal dengan tuntutan pasar global. Melalui pendampingan yang tepat sasaran, limbah yang tadinya dibuang begitu saja kini menjadi aset berharga yang mampu mengharumkan nama Sawahlunto di kancah fesyen nasional. Inilah masa depan UMKM Indonesia: berbasis pada kekuatan akar rumput, didorong oleh inovasi, dan didukung oleh kecerdasan digital. Dengan dukungan berkelanjutan, bukan hal mustahil jika suatu saat nanti, tas perca songket karya warga Silungkang ini akan terpajang di butik-butik premium atau pusat perbelanjaan kelas atas di berbagai kota besar di Indonesia, membuktikan bahwa kreativitas dan semangat pantang menyerah adalah kunci utama dalam memenangkan persaingan pasar.